Hari Minggu, 21 September 2008 yang lalu, saya dan istri serta anak-anak nomor 2 dan 3 menghadiri acara “undokai” atau pertandingan olah raga (class meeting) di sekolah anak yang nomor 1, tepatnya di Higashi Ayase Elementary School, Adachi-ku, Tokyo. Undokai disusun dari dua kata, yaitu “undo (olah raga)” dan “kai (pertemuan/festival)”. Jadi, undokai secara harfiah berarti “festival olah raga”. Dulu sewaktu saya masih duduk di bangku SD hingga SMA ada acara serupa dengan undokai yang diberi nama class meeting yang merupakan pertandingan/perlombaan olah raga antar kelas. Tapi sangat disayangkan, tradisi ini sudah luntur dan bahkan hilang di sekolah-sekolah Indonesia saat ini.
Sepintas memang antara undokai dan class meeting ada banyak kesamaan. Namun sesungguhnya, acara undokai dan class meeting memiliki makna yang sangat berbeda. Acara class meeting mempertandingkan cabang-cabang olah raga tertentu yang menjadi kesukaan siswa/siswi, misalnya: bola volley, bulu tangkis, tennis meja, catur dll. Pertandingan ini dilakukan antar kelas. Peserta pertandingan tentu saja siswa/siswi yang memiliki memiliki keahlian dalam salah satu cabang tertentu atau siswa/siswi yang menggemari cabang olah raga tertentu. Otomatis, siswa/siswi yang tidak memiliki ketrampilan atau tidak suka dengan olah raga tidak akan berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan ini. Nah, disinilah letak perbedaan antara keduanya. Dalam undokai, siswa dibagi kedalam dua kelompok yang merupakan gabungan seluruh siswa dari kelas terendah hingga kelas teratas. Cabang olah raga yang dipertandingkanpun hanya satu, yaitu LARI SAMBUNG. Jadi, seluruh siswa/siswi dapat berpartisipasi aktif dalam acara ini, meskipun dalam kondisi yang kurang normal. Jika dalam class meeting pemenangnya adalah individu-individu yang mewakili kelas tertentu, maka dalam undokai pemenangnya adalah kolektif, kelompok satu atau kelompok dua.
Dari situ dapat kita lihat, perbedaan dasar kedua aktivitas ini. Jika dalam class meeting yang ditonjolkan adalah kemampuan individu, maka dalam undokai siswa/siswi diajarkan untuk membangun kerjasama agar menjadi satu team work yang solid. Nilai-nilai ini ditanamkan sejak dini kepada siswa/siswi, bahkan dimulai sejak mereka duduk dibangku TK/Play Group. Tidak mengherankan jika kemudian anak-anak Jepang sudah terbiasa untuk bekerjasama dalam satu tim.

Ada satu nilai universal yang lain yang diajarkan kepada siswa/siswi di sekolah Jepang, yaitu sportifitas (mengakui kemenangan lawan). Nilai ini diajarkan dengan cara mengajak seluruh siswa/siswi untuk memberikan tepuk-tangan yang sama meriahnya dengan tepuk-tangan untuk menyambut kemenangan timnya. Ketika mereka telah mengetahui kelompok lawan yang keluar sebagai pemenang, dengan serentak mereka akan memberikan ucapan selamat kepada lawannya. Nampaknya memang sederhana, akan tetapi sungguh telah menanamkan jiwa sportif di kalangan siswa/siswi yang akan terus tertanam dalam ingatan mereka. Jiwa sportif inilah yang kini sudah luntur di kalangan siswa/siswi Indonesia, bahkan di kalangan para pemimpin negeri kita. Mungkin ada baiknya para calon pemimpin yang akan berkompetisi dalam PEMILU/PILKADA datang dan melihat acara undokai agar mereka juga dapat belajar berjiwa besar mengakui kekalahannya. Jiwa besar hanya akan dimiliki oleh pemimpin-pemimpin besar dan pemimpin-pemimpin yang mengutamakan seluruh orang yang dipimpinnya, bukan hanya kelompoknya saja. Semoga, tahun depan akan terlahir pemimpin besar ditanah air melalui pesta demokrasi lima tahunan. Amiin…
Tokyo, September 2008
Iskhaq Iskandar