Dua minggu lamanya saya pulkam ke Indonesia. Tepatnya dari tanggal 27 Juli hingga 9 Agustus yang lalu. Banyak hal yang saya dapat, saya rasakan dan saya alami selama berada di Indonesia. Mulai hal yang sangat menyenangkan hingga hal yang “merisaukan” hati. Semuanya terpatri erat dalam ingatan yang sekaligus menjadi satu acuan untuk mempersiapkan rencana kepulangan ke tanah air tahun depan.
Seperti biasa, di Jakarta saya bertemu dengan teman lama. Sebenarnya bukan hanya sekedar teman, tapi beliau adalah saudara, kakak, guru dan panutan buat saya. Dalam percakapan sehari-hari selama saya berkunjung ke tempat beliau bekerja dan selama tinggal di kediaman beliau, selalu saja meluncur petuah-petuah kehidupan yang membangkitkan semangat untuk selalu bergerak maju. Pengalaman beliau selama beberapa tahun terakhir setelah kembali ke pangkuan republik “tercinta“, menjadikan beliau cukup paham dengan kondisi real yang harus dihadapi seorang “peneliti” di negeri zamrud khatulistiwa ini. Idealisme tanpa dukungan materiil akan sangat rentan terkontaminasi oleh “deal-deal” kepentingan sesaat yang melenakan. Namun ini bukan berarti bahwa kita tidak dapat mempertahankan idealisme kita sebagai seorang peneliti, karena disamping banyaknya tekanan-tekanan, tidak dapat dipungkiri bahwa terbuka banyak peluang-peluang yang menjanjikan. Meminjam istilah yang dipakai oleh sahabat erat saya: Indonesia adalah laboratorium sekaligus lahan aplikasi untuk segala macam kegiatan penelitian. Ya…, ini adalah peluang sekaligus tantangan yang sangat menarik.
Pejalanan ke Jakarta tahun ini juga berbeda dengan perjalanan serupa sebelumnya. Kali ini saya mendapat lebih banyak waktu bertemu, berdiskusi dan membangun network dengan beberapa kolega yang memiliki semangat yang sama. Lebih bermakna lagi karena perjalanan kali ini juga telah menumbuhkan keyakinan dalam diri saya untuk segera kembali ke tanah air dan berbuat lebih banyak untuk negeri tercinta. Semoga…Amiin..
Pulkam (poelang kampoeng) ke Palembang juga terasa berbeda. Ada beberapa perubahan di almamater tercinta, Universitas Sriwijaya, walaupun masih banyak hal yang perlu dibenahi. Saya juga membaca adanya beberapa peluang untuk mengembangkan diri di kampus tercinta. Semua semakin membuat saya yakin untuk pulang ke tanah air tahun depan. Semoga Allah SWT memberikan yang terbaik….Amiin..
Ada satu petuah yang saya dapat dari “sopir taksi” yang mengantarkan saya dari Bandara ke Hotel dalam perjalanan pulang saya yang lalu. Beliau mengatakan: Kapal itu dibangun untuk kepentingan berlayar, bukan hanya untuk ditambatkan di dermaga kemudian dihiasi dan dipercantik. Begitu juga dengan ilmu yang kita tuntut. Ilmu diperoleh untuk diamalkan dan diajarkan, bukan hanya untuk “memperkaya” diri sendiri. Demikian dalam makna petuah ini hingga membuat saya tersentak kaget. Saya seakan terbangun dari tidur panjang yang membuai. Memang saya sadari, kehidupan riset di Jepang sangat melenakan dan membuat sang peneliti terbuai untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan “langit” tanpa memikirkan manfaatnya untuk “bumi“. Terima kasih Pak Sopir atas petuahnya. Memang kapal tidak akan teruji sebelum dia berlayar memecah ombak, mengarungi samudera.
Saatnya kini singsingkan lengan baju dan majoe berjoeang….. Semoga Allah SWT meridhoi… Amiin..
Pinggir Teluk Tokyo, 12 August 2008
Iskhaq Iskandar


welcome backselamat kembali pak *smile*manstab nih tulisannya. Kira-kira ke depannya ada rencana apa untuk Indonesia??
@Om Ancha,
thanks atas kunjungannya ke blog ini.
kepulangan kali ini memang benar-benar terasa beda buat saya. kepulangan kali ini justru membuat semangat saya untuk segera “angkat kaki” dari “nirwana” peneliti menuju medan JOEANG. Saya sempat membuat beberapa catatan kecil ttg peluang-peluang tersebut. Saat ini saya berusaha menyisihkan waktu untuk memulai membuat rencana-rencana perjoeangan nanti. Insya Allah, sebelum pulang nanti sdh bisa saya selesaikan. Tapi dibalik itu semua, yang terpenting adalah untuk tetap mempertahankan semangat dan sedapat mungkin kita sudah “imun” bukan cuma bersih. Sebab bersih jika dimasukkan kedalam tempat yang kotor akan menjadi kotor. Tetapi jika “imun/kebal”, dia akan tahan terhadapap tekanan dari luar. okay…gambarimashou…
Teu jadi pulang ka UnSri geuningan? Hehehe.
Ditunggu kedatangannya di Ameriki. Berapa lama rencananya riset di Ameriki Kang Ishaq?
Kalau menurut saya, penerapan ilmu itu ada bermacam2. Bukan hanya untuk mengajari orang. Hasil penelitian yang bermanfaat, atau paper hasil penelitian yang memajukan science dan pengembangannya, juga merupakan kegiatan pemanfaatan ilmu dan penerapannya, dan termasuk amal juga.
Lagipula, selama ada kesempatan untuk jadi peneliti dan belajar, ya harus belajar dulu, supaya waktu pulang sudah jadi super canggih.
Juga:
Kapal dibuat untuk berlayar, tapi bukan untuk ditenggelamkan. Kalau kondisi laut membahayakan, badai bisa membuat tenggelam, ya perjalanan bisa ditunda.
Kapal dibuat untuk berlayar, tapi ada bermacam jenis kapal dan kegunaannya. Bisa untuk nelayan, bisa untuk pelesir, bisa kapal perang, bisa kapal tanker, dll. Kegunaan itu masing2, penerapan masing2, dan “waktu” yang tepat untuk berlayar dan jenis pelayarannya juga masing2.
Tabik, Kang. Mudah2an ada kesempatan bisa ketemu selama Kang Ishaq posdok di Ameriki euy.
@Kang Davin,
thansk atas kunjungannya ke blog saya.
iya nich, belum “berani” pulang ke UnSri, soalnya amunisinya belum siap. mental sebagai pejuangnnya masih perlu dibenahi lagi. mudah-mudahan setelah “berguru” ke NOAA nanti akan lebih siap lagi.