Menghidupkan kembali semangat “bahari “

15 07 2008

Nenek moyang ku orang pelaut

Gemar mengarung luas samudera

Menerjang ombak tiada takut

Menempuh badai sudah biasa…

 

Paragraf di atas merupakan syair lagu yang sering dinyanyikan murid Sekolah Dasar di era 80-an. Lagu yang melegendakan kejayaan maritim nenek moyang Nusantara. Jika kita buka kembali sejarah perjalanan bangsa ini, syair lagu di atas bukanlah dongeng pengantar tidur. Setidaknya dua kerajaan besar; Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit; yang menjadi simbol masa keemasan Nusantara merupakan kerajaan yang berjaya karena kekuatan maritimnya.

Kejayaan bahari pertama tercapai pada masa Kerajaan Sriwijaya (683-1030 M) yang berpusat di tepian Sungai Musi. Dengan kekuatan armada lautnya, Kerajaan Sriwijaya mampu mengendalikan jalur perdagangan yang super sibuk dimasa itu, yaitu jalur perdagangan di Selat Malaka. Berakhirnya masa kejayaan Sriwijaya tidak melenyapkan kejayaan armada laut kerajaan Nusantara. Kebangkitan Kerajaan Majapahit (1293-1478 M) telah menjelma menjadi kerajaan maritim yang sangat berpengaruh di masa itu. Dibawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gadja Mada, Kerajaan Majapahit mampu mencapai masa keemasannya dengan wilayah kekuasaan terbentang dari Irian hingga Semenanjung Malaka. Bahkan dalam catatan sejarah terungkap bahwa pengaruh Kerajaan Majapahit sampai ke Filipina, Kamboja dan China.

 

Sayangnya, cerita tentang kebesaran bahari kita tidak berlanjut setelah runtuhnya Majapahit. Meskipun Kerajaan Demak mampu mengirimkan armada laut di bawah Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor (1518-1521) untuk menyerang Portugis di Malaka, namun kekuatannya belum mampu menandingi armada laut Portugis.

 

Kekuatan maritim kita benar-benar lumpuh setelah bangsa Portugis dan Belanda dengan VOC-nya menguasai Nusantara. Mereka menyadari pentingnya melumpuhkan kekuatan maritim Nusantara untuk menguasai wilayah yang menjadi sumber rempah-rempah di masa itu. Periode selanjutnya adalah terjadinya pergeseran dari budaya bahari ke budaya agraris. Dapat dikatakan bahwa robohnya seluruh konstruksi kejayaan bahari yang telah terbangun sejak berabad-abad yang lalu tidak lepas dari pengaruh pola pikir kapitalis yang bermaksud mengangkangi kekayaan negeri yang kaya raya ini.

 

Babak baru kebangkitan dunia bahari lahir dengan berdirinya Republik ini. Para pendiri negeri ini sadar bahwa bangsa ini adalah bangsa bahari yang dapat bangkit dan bersinar dengan menguasai bahari. Deklarasi Djuanda (13 desember 1957) yang menyatakan kedaulatan Republik Indonesia atas wilayah laut disekitar kepulauan Nusantara merupakan tonggak sejarah yang menandai lahirnya negeri kepulauan di zamrud khatulistiwa. Dengan deklarasi ini, kita menganut paham bahwa laut merupakan perekat bukan pemisah pulau-pulau.

 

Namun sayang, pergantian rezim telah mengubur kembali rekonstruksi budaya dan wawasan bahari yang mulai terbangun. Meskipun rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto menetapkan tanggal 13 Desember sebagai Hari Nusantara, namun kebijakan pembangunan yang dijalankan sama sekali tidak mencerminkan pengakuan atas peran bahari untuk kebangkitan Indonesia. Melalui REPELITA, bangsa ini digiring untuk menjadi bangsa agraris. Dunia bahari kita tinggalkan, meskipun kita tahu bahwa kita adalah bangsa pelaut, yang akan berjaya jika berinteraksi dengan lautan.

 

Potensi Laut Indonesia

Seiring dengan semangat 100 tahun kebangkitan Indonesia, ada baiknya kita menoleh kembali ke laut. Setidaknya ada dua alasan yang dapat dijadikan dasar untuk menanamkan budaya bahari disetiap manusia Indonesia.

 

Pertama keunggulan luas wilayah. Luas laut Indonesia mencapai lebih kurang 70% (5,8 juta km2) total luas wilayah Indonesia dengan garis pantai sepanjang lebih dari 80,000 km (kedua terpanjang didunia setelah Kanada). Laut yang merekatkan sekitar 17,000 pulau untuk membentuk satu gugusan kepulaun terbesar di dunia memendam beragam potensi yang belum termanfaatkan secara optimal.

 

Estimasi sumber daya perikanan di wilayah perairan Indonesia termasuk wilayah Zona Ekonomi Ekslusip Indonesia (ZEEI) adalah sebesar 6,4 juta ton per tahun. Jika kita asumsikan harga ikan USD 1.000 per ton, maka laut kita memendam potensi sekitar USD 5 milliar dengan mempertimbangkan prinsip kelestarian sumber daya ikan.

 

Disamping memendam sumber daya hayati, Planet biru Nusantara ini diyakini menyimpan berlimpah cadangan hidrokarbon berupa minyak dan gas bumi. Puluhan cekungan yang telah terinvetaris di wilayah perairain kita hingga sekarang belum mampu kita manfaatkan.

 

Laut Indonesia juga menyajikan keindahan dan kekayaan biodiversity yang diakui dunia. Sebut saja wilayah kepulauan Raja Ampat didekat kota Sorong, Papua. Daerah ini merupakan taman laut yang memiliki keanekaragaman hayati terindah di Indonesia. Tidak mengherankan jika para ahli kelautan dunia mengusulkan kawasan ini menjadi situs warisan dunia (World Heritage Sites). Tentu masih banyak kawasan wisata bahari di negeri ini yang telah dijadikan daerah tujuan utama bagi para pelancong dunia yang pada gilirannya akan menambah pundit-pundi devisa kita.

 

Kedua posisi strategis Indonesia Posisi negeri kepulauan ini yang diapit oleh dua samudera (Samudera Pasifik dan Samudera Hindia) dan dibatasi oleh dua benua (Benua Asia dan Benua Australia) menjadikannya berada pada titik strategis yang sangat menguntungkan. Dari segi ekonomi, Indonesia berada pada jalur perdagangan internasional yang melalui selat tersibuk di dunia, yaitu Selat Malaka. Selain Selat Malaka, jalur perdagangan internasional juga melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), seperti Selat Makassar, Selat Lombok, Selat Sunda dan Laut Banda. Secara politik, posisi Indonesia juga bernilai strategis. Pertumbuhan ekonomi China yang kini menjelma menjadi kekuatan super power kedua setelah Amerika, membutuhkan pasokan energi yang besar dari kawasan Timur Tengah dan Afrika yang pada akhirnya akan melalui wilayah laut Indonesia.

 

Dari kacamata oseanografi-atmosfer, pergerakan arus laut dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia melalui perairan dalam Indonesia, Indonesian Throughflow atau Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), memegang peran penting dalam mengontrol iklim global. Setiap tahun rata-rata 10 juta meter kubik per detik (10 Sverdrup) massa air mengalir dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia melalui Selat Selat Lombok, Selat Ombai dan Laut Timor. Massa air ini membawa panas rata-rata 0,8 PW per tahun (1 Petta Watt = 1015 Watt). Terganggunya keseimbangan system arus laut ini menimbulkan efek yang besar terhadap dinamika laut-atsmofer di kedua samudera ini yang dikenal dengan istilah fenomena El Niño-La Niña dan Indian Ocean Dipole.

 

Sayangnya anugerah yang luar biasa di atas belum disadari benar oleh para pengambil kebijakan di negeri ini. Paradigma pembangunan kita masih bertumpu pada satu kaki; agraris; yang hingga kini belum mampu mengantarkan bangsa ini keluar dari krisis ekonomi berkepanjangan.

 

Paradigma Negara Maritim

Posisi strategis yang ditunjang kekayaan sumber daya baik hayati maupun non-hayati merupakan modal yang sampai sekarang belum dimanfaatkan secara optimal untuk mengentaskan bangsa ini dari keterpurukan. Namun perlu diingat bahwa mengelola dan memanfaatkan sumberdaya kelautan secara berkelanjutan membutuhkan penguasaan sains dan teknologi dan penerapannya secara terpadu.

Sejarah mencatat bahwa ketangguhan maritim dan agraria adalah pilar-pilar utama untuk kejayaan Nusantara. Penguasaan sains dan teknologi kelautan saja tidak cukup untuk menghidupkan kembali kejayaan maritim Nusantara. Dibutuhkan visi dan strategi yang tepat untuk merubah paradigma pembangunan, dari paradigma agraris menuju paradigma maritim. Paradigma pembangunan yang akan mengantarkan bangsa ini kembali ke puncak kejayaan.

—–oo0oo—–

Pinggir Teluk Tokyo, 15 Juli 2008

-Iskhaq Iskandar


Actions

Information

3 responses

31 07 2008
rahmat

hidup kelautan

dunia kelautan nusantara mudah2an terus berjaya.

tanpa embel2 yang namanya korupsi. Amin

Berjayalah kelautanku

28 10 2008
mansur yahya

mari jadikan momentum
kebangkitan nasional ke-100 & sumpah pemuda ke-80
untuk kembali menggerakkan jiwa dan semangat pemuda
untuk kembali kelaut
mari kita kembali menantang ganasnya ombak & badai samudra
karena disitulah kita bisa berjaya

ibu pertiwi menantikan lahirnya Gajah Mada ke-II,
untuk membangkitkan & menjayakan Nusantara

kembalikan kebesaran kita
kembalikan harga diri kita
kembalikan kejayaan kita
yang telah lama tergadai
bangkitkan semangat & jiwa bahari
bangkitlah bangsaku
jayalah lautku

18 08 2009
vita

salam,
boleh minta alamat emailnya ga…

pengen diskusi lanjut soal kelautan…tengkyu

Leave a comment