Awas, La Niña mengancam!!!

22 11 2007

Meskipun curah hujan masih normal namun beberapa tempat di sudut-sudut kota besar di tanah air sudah dilanda banjir. Sangat kontras dengan kondisi yang terjadi 1-2 bulan yang lalu. Warga yang berdomisili di daerah yang menjadi langganan banjir, seolah lupa bahwa mereka baru saja mengalami musim kemarau. Belum mereka sempat memperbaiki atap rumah yang bocor karena kesibukan mencari persediaan air selama musim kemarau, kini mereka telah disibukkan dengan kedatangan “tamu” baru; air hujan – banjir. Tak berlebihan jika kita mengatakan: hujan datang, banjir mengancam; kemarau menyapa, asap menjadi petaka.

Ilustrasi di atas mungkin terlalu ironis, namun setidaknya itulah gambaran kondisi lingkungan di sebagian besar wilayah Indonesia akhir-akhir ini. Disamping kelalaian kita dalam menjaga keseimbangan lingkungan, tak dapat dipungkiri jika alam juga ikut berperan memperburuk kondisi yang sengaja atau tidak telah diciptakan oleh manusia. Penyimpangan iklim, seperti El Niño – La Niña dan Indian Ocean Dipole, merupakan anomaly iklim yang mempengaruhi iklim regional dan global. Artikel ini akan menyajikan kondisi terkini dari dua fenomena iklim di atas.

Fenomena El Niño – La Niña dan Indian Ocean Dipole

El Niño merupakan salah satu bentuk penyimpangan iklim di Samudera Pasifik yang ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut (SPL) di daerah katulistiwa bagian tengah dan timur. Sebagai indikator untuk memantau kejadian El Niño, biasanya digunakan data pengukuran SPL di zona Niño3.4 (170°BB – 120°BB, 5°LS – 5°LU), dimana anomali positif mengindikasikan terjadinya El Niño. Kenaikan anomali SPL Niño3.4 diiukuti dengan melemahnya angin pasat (trade winds) yang mengakibatkan pergeseran daerah konveksi pembentukan awan-awan hujan. Pada kondisi normal, daerah konveksi berada di daerah barat Samudera Pasifik. Namun, pada kondisi El Niño, zona konveksi bergeser ki tengah-tengah Samudera Pasifik. Kondisi ini biasanya terjadi menjelang akhir tahun, sehingga akibatnya bagi Indonesia dapat kita tebak. Musim penghujan yang biasanya terjadi di akhir tahun akan diganti dengan kemarau karena pengaruh El Niño. Jejak terakhir El Niño yang terekam dari data SPL di zona Niño3.4 adalah terjadi pada akhir tahun 2002/2003.

Jika El Niño mengakibatkan kekeringan, maka lain halnya dengan La Niña. Kembaran El Niño ini memiliki sifat yang bertolak belakang dengan El Niño. Fenomena La Niña ditandai dengan menurunnya SPL di zona Niño3.4 (anomali negatif), sehingga sering juga disebut sebagai fase dingin. Karena sifatnya yang dingin ini, kedatangannya juga dapat menimbulkan petaka di berbagai kawasan kathulistiwa, termasuk Indonesia. Curah hujan berlebihan yang menyertai kedatangan La Niña dapat menimbulkan banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah di Indonesia. Jadi, dua “lakon” di panggung Samudera Pasifik ini sama-sama menakutkan. Yang satu menyebar petaka kekeringan, sementara yang lain memberi ancaman banjir.

Sama halnya dengan Samudera Pasifik, Samudera Hindia juga merupakan panggung pertunjukan bagi kejadian yang menyerupai El Niño dan La Niña, yang dikenal dengan istilah Indian Ocean Dipole (IOD). Namun demikian, fenomena IOD baru ditemukan pada tahun 1999 oleh Dr. N. H. Saji dan Professor Toshio Yamagata. Dalam makalahnya yang diterbitkan di majalah Nature, mereka mendefiniskan IOD sebagai gejala penyimpangan iklim yang dihasilkan oleh interaksi laut dan atmosfer di Samudera Hindia di sekitar kathulistiwa. Interaksi ini menghasilkan tekanan tinggi di Samudera Hindia bagian timur (bagian Selatan Jawa dan Barat Sumatra) yang menimbulkan aliran massa udara yang berhembus ke barat. Hembusan angin ini akan mendorong massa air di depannya dan mengangkat massa air dari bawah ke permukaan. Akibatnya, SPL di sekitar pantai Selatan Jawa dan pantai Barat Sumatra akan mengalami penurunan yang cukup drastis, sementara di dekat pantai timur Afrika tejadi kenaikan SPL. Perbedaan SPL ini (anomali positif di sebelah barat dan anomali negatif di sebelah timur) membentuk dua kutub, positif dan negatif, di Samudera Hindia yang kemudian disebut sebagai Dipole Mode Event (DME) atau Indian Ocean Dipole (IOD).

Seperti halnya El Niño, kejadian IOD direpresentasikan dengan satu indeks yang diberi nama Dipole Mode Index (DMI), yaitu perbedaan SPL di bagian barat Samudera Hindia (50° – 70°BT, 10°LS – 10°LU) dan SPL di bagian timur Samudera Hindia (90° – 110°, 10°LS – ekuator). Semakin besar nilai indeks ini, semakin kuat sinyal IOD dan semakin dahsyat akibat yang ditimbulkan. Jika di Samudera Pasifik, El Niño memiliki kembarannya yaitu La Niña, maka IOD di Samudera Hindia juga berpasangan; positif IOD (pIOD) dan negatif IOD (nIOD). pIOD menyebabkan kekeringan, sama halnya dengan El Niño, sementara nIOD memiliki sifat yang sama dengan La Niña, yaitu meningkatkan curah hujan.Lain halnya dengan El Niño-La Niña yang mencapai puncaknya pada akhir/awal tahun (Desember – Februari), evolusi IOD dimulai pada bulan Juni/Juli dan akan mencapai puncaknya pada bulan September – Oktober. Maka jika terjadi kombinasi El Niño di Samudera Pasifik dan pIOD di Samudera Hindia, Indonesia akan mengalami bencana kekeringan yang sangat parah akibat kemarau yang berkepanjangan dari bulan Juli hingga Februari tahun berikutnya. Hal ini pernah kita alami pada tahun 1997/1998.

Bagaimana dengan tahun 2007?

Tahun 2007 adalah tahun yang unik bagi kondisi iklim global. Jika lazimnya El Niño berkombinasi dengan pIOD atau La Niña berpadu dengan nIOD, maka tahun ini terjadi kombinasi yang sangat jarang sekali terjadi. Di Samudera Hindia telah terjadi pIOD, sementara di Samudera Pasifik terjadi La Niña. Kombinasi kedua fenomena ini sangat langka, dan kejadian tahun ini merupakan pengulangan kejadian serupa di tahun 1967.

Data DMI terkini jelas menunjukkan bahwa evolusi pIOD dimulai pada bulan Juli 2007 dan puncaknya adalah pada bulan September 2007 dan mulai melemah di bulan Oktober 2007. Sementara itu, La Niña di Samudera Pasifik sudah semakin mendekati puncaknya, dimana anomaly SPL di zona Niño3.4 sudah menunjukkan nilai >-1.5°C. Pola anomali SPL di Samudera Hindia dan Pasifik yang menunjukkan bahwa telah dan sedang berlangsung kedua fenomena anomali iklim tersebut. Ini menandakan bahwa kita akan segera mendapat efek “basah” dari fenomena La Niña.

Gambar 1. (a) Dipole Mode Index yang dihitung dari perbedaan suhu permukaan laut bagian barat (50° – 70°BT, 10°LS – 10°LU) dan bagian timur (90° – 110°, 10°LS – ekuator) Samudera Hindia. (b) Niño3.4 Index yang merupakan anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik (170°BB – 120°BB, 5°LS – 5°LU).

Gambar 2. Anomali suhu permukaan laut di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik pada bulan Oktober 2007.

Seperti yang telah diuraikan di atas, pasangan gejala alam ini memberikan dampak kepada kondisi iklim di Indonesia. Ulah pIOD ini sangat terasa di Pulau Jawa dan Kepulauan Nusa Tenggara hingga akhir Oktober kemarin yang menyebabkan kekringan di sebagian besar wilayah kedua pulau tersebut. Citra satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) selama bulan Agustus hingga Oktober 2007 menunjukkan curah hujan jauh di bawah normal di pulau Jawa dan Kepulauan Nusa Tenggara. Sementara itu, La Niña memberikan kontribusi pada terjadinya hujan di sebagian besar wilayah timur Indonesia.

Antisipasi La Niña

Dengan melemahnya fase pIOD di Samudera Hindia dan menguatnya sinyal La Niña di Samudera Pasifik, maka peluang terjadinya hujan akan semakin besar di berbagai kawasan sebelah barat Samudera Pasifik, termasuk Indonesia. Hal ini bisa terlihat dari data curah hujan selama kurun waktu 4 – 10 November 2007 yang terekam oleh satelit TRMM. Telah terjadi peningkatan curah hujan yang cukup signifikan di sebagian besar wilayah pulau Jawa jika dibandingkan dengan periode yang sama untuk bulan-bulan sebelumnya. Dampak buruk dari kenaikan curah hujan, khususnya di wilayah Jakarta sudah mulai dirasakan penduduk di kawasan langganan banjir beberapa hari terakhir ini. Padahal, jika kita melihat indeks Niño3.4, kondisi La Niña sedang menuju ke puncak. Ini berarti ada peluang meningkatnya curah hujan di penghujung tahun 2007 dan awal tahun 2008 nanti. Tentu kita tidak ingin melihat ibukota Negara kita tenggelam direndam banjir. Namun, kemungkinan itu ada dan sangat mungkin terjadi jika kita tidak mengantisipasinya sedari dini.

Upaya pengerukan dan penurapan beberapa sungai di wilayah ibukota yang telah dan sedang dilakukan oleh Pemda DKI sudah sepatutnya mendapat dukungan dari semua pihak. Namun demikian, program ini akan lebih memiliki manfaat yang berkesinambungan apabila diiringi dengan upaya bersama dari seluruh pihak terutama para penentu kebijakan dan warga di sepanjang bantaran sungai untuk memelihara sungai dan lingkungan secara baik. Tanpa kesadaran ini, program revitalisasi sungai hanya akan menjadi semacam program akhir tahun yang memakan anggaran tak sedikit jumlahnya.

Antisipasi banjir yang dilakukan Pemda DKI hendaknya diikuti pula oleh daerah-daerah rawan banjir dan tanah longsor di beberpa propinsi di Sumatera, Jawa dan Sulawesi. Banjir bandang yang melanda beberapa daerah di NAD, Sumatera Utara, Jawa Tengah dan Sulawesi baru-baru ini, diduga kuat terkait dengan kerusakan lingkungan di sana.

Kini kita seolah berpacu dengan waktu. La Niña sudah ada di hadapan kita dan siap menebar bencana. Salah satu upaya yang masih mungkin dilakukan dalam waktu dekat adalah memberikan pendidikan mitigasi bencana kepada warga di kawasan rawan banjir. Dengan persiapan mitigasi bencana yang baik, diharapkan dampak buruk yang mungkin ditimbulkan akan dapat diminimalisir.

Akhirnya, penulis ingin meminjam motto yang digunakan oleh presiden kita. Bersama kita bisa hadapi La Niña.

Iskhaq Iskandar (Yokohama, 22 November 2007)


Actions

Information

Leave a comment